Sejarah kerajinan tenun Lurik khas Klaten Pedan

274

Sejarah kerajinan tenun Lurik khas Klaten Pedan

Akibatnya, semua penghuni Pedan telah mengungsi misalnya Suhardi Hadi Sumarto dan seluruh pegawainya. Rachmad mengatakan,
Selama evakuasi, karyawan Sumber Sandang mengekspos ilmu tentang penggambaran kepada sesama pengungsi. Tenun kerajinan Klaten_2 Jatuh Tempo
sudah mapan dan memiliki cukup beberapa karyawan. Tapi ada Agresi Belanda, dan Pedan adalah salah satu daerah yang terkena dampak. Setelah
Kondisi di tahun 1950, warga yang melarikan diri kembali ke Pedan dan mereka mulai membuka perusahaan tenun. Pada saat itu di Pedan dikenal sebagai
lurik tenun di Klaten. Tenun lurik Pedan telah melewati masa jayanya. Gempuran industri dengan segala
Infrastruktur melepas pamor Pedan lurik. Tapi sampai saat ini Sumber Sandang masih bisa hidup. Dikatakan Rachmad,
membawa produk agar tetap hidup dan terus menghasilkan faktur. Terletak di Dusun Bukalinan, Desa Kedungan, Kecamatan Pedan,
Pengrajin yang disebut Sumber Sandang adalah pemimpin tenun lurik di Pedan, adalah Suhardi Hadi Sumarto yang memprakarsai Sumber Sandang sebagai
1938. Pada tahun 1960 Rachmad melanjutkan usaha yang dipelopori orang tuanya. Pria itu kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia
Indonesia, tapi hanya bertahan satu musim dan kembali ke rumah untuk melanjutkan usaha keluarga. Saat ini Sumber Sandang diteruskan olehnya
anak bernama R. Rachmad. “Dengan alat tenun non-mesin (ATBM), kita tidak hanya menghasilkan striat, tapi beberapa kain lainnya,” Rachmad menjelaskan.Baca juga: harga piala

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s